- Home
- Kulineran
Tapal Market Bandung, Resto Fine Dining di Tengah Pertokoan Onderdil dan Bangunan Tua
Di Tapal Market, hidangan tradisional diberi twist modern, sehingga terasa familiar tapi tetap fresh.
SOEAT - Di tengah deretan toko onderdil tua di Jalan Banceuy, Kota Bandung, sebuah resto ala fine dining muncul sebagai oase kuliner baru yang memadukan tradisi dan estetika modern. Konsepnya industrial modern, yang menghadirkan sentuhan kuliner fusi bercita rasa mengejutkan. Perkenalkan, Tapal Market.
Mengapa mengejutkan? Karena biasanya, menu-menu yang ada di Tapal Market hadir dalam restoran fine dining dengan harga yang hanya masuk akal bagi kalangan high end. Elemen kuncinya ada tiga: fusion serius antara kuliner nusantara dengan berbagai negara, plating yang cantik dan "niat", serta suasana santap yang nyaman.
-800.jpg)
Kita tahu bahwa restoran fine dining adalah tempat bersantap mewah yang menyajikan makanan berkualitas tinggi dengan pelayanan formal. Suasanya elegan, dan detail yang sangat diperhatikan. Kesan-kesan itu juga terasa saat mengunjungi tempat yang satu ini.
Tapal Market dulunya adalah sebuah bengkel kendaraan yang sudah berusia puluhan tahun. Bengkel tua itu kini "disulap" menjadi bangunan modern berkonsep industrial minimalis yang estetik, dengan elemen kayu yang hangat.
Mengusung tagline "Re-Thinking Local Taste", Tapal Market mengangkat cita rasa lokal dengan pendekatan segar. Di sini, hidangan tradisional diberi twist modern, sehingga terasa familiar tapi tetap fresh. Yang lebih "segar" lagi, kehadirannya ada di lokasi yang mungkin tak terpikirkan.
Membaur dan Mendaur dalam Nuansa Minimalis
Letaknya tepat di sebelah kanan kawasan toko onderdil alias spare part berbagai kendaraan, serta bengkel dan pertokoan lampu. Dari luar, resto ini terlihat membaur dengan bangunan di sekitarnya.
-800.jpg)
Fasad bangunan tua tetap dipertahankan. Plang nama Tapal Market pun, dibuat secara daur ulang sehingga terlihat vintage.
Plang putih bertuliskan berbagai merk kendaraan, dibiarkan pudar namun masih tetap terbaca. Di atasnya, ditimpa lambang payung sederhana beraksen titik-titik.
Well, actually, bisa saja pemiliknya menggunakan plang nama baru yang bold dan lebih eye catchy. Namun agaknya, ini juga adalah konsep yang dipikirkan. Tapal Market yang modern sudah berdiri dengan percaya diri -dan kesederhanaan itu sudah terasa menyenangkan.
Sisi luar Tapal Market di jalan besar dibiarkan hanya berupa deretan kaca besar dengan penerangan optimal. Untuk masuk ke dalamnya, tamu harus masuk sekitar 20 meter ke dalam gang.
Saat masuk, tamu "disambut" dengan rak ala Japandi (paduan antara konsep Jepang dan Skandinavian) yang cantik. Di baliknya, ada dapur utama yang sibuk.
-800.jpg)
Berbeda dengan resto fine dining yang formal, suasana makan di dalam Tapal Market terasa kasual. Di sisi kanan, terdapat mini bar besar yang juga bisa jadikan tempat bersantap dan berinteraksi. Semakin menyenangkan, karena (ternyata), tamu tak harus merogoh kocek terlalu dalam untuk menikmati sajian spesial Tapal Market. Cukup affordable.
Kesan minimalis dan simpel segera terasa ketika menekuni daftar menu. Jumlah menunya tak banyak, namun cukup membuat penasaran ingin mencoba semuanya. Kenapa? Karena rasanya, tak ada menu serupa yang bisa didapatkan di resto atau tempat bersantap lain.
Fusi Kuliner Nusantara dan Berbagai Negara
-800.jpg)
Petikan pemberitahuan singkat mengenai beberapa menu yang masih dalam proses pengembangan, sama sekali tak terasa mengganggu. Justru, kehadiran enam menu unik cukup memantik rasa ingin mencoba. Jujur, kami kewalahan menentukan pesanan.
Pada akhirnya, pilihan jatuh pada tiga menu yang paling banyak dipesan: mie lodeh, semur daging, dan gulai ayam bakar. Sesuai namanya, mie lodeh terinspirasi dari sayur lodeh yang sudah kita ketahui bersama. Eksekusinya? Can't wait!
Mi dengan tekstur kenyal dan sedikit tebal - biasanya kita temukan dalam ramen, menjadi spotlight utama. Mi homemade ini disajikan dalam kuah lodeh yang sudah dimodifikasi bersama kuah kolagen yang creamy. Menarik, bukan?
-800.jpg)
Sayuran lodeh seperti jagung, wortel, dan labu, tak absen dihadirkan. Sebagai topping utama, ada pan seared chicken, dan pindang ajitama.
Pindang Ajitama adalah kreasi fusion kuliner yang memadukan telur ajitama (ramen egg khas Jepang) dengan cita rasa pindang khas Indonesia, sehingga menghasilkan telur rebus setengah matang yang dimarinasi dalam kuah berbumbu manis-gurih beraroma rempah lokal. Kehadiran mie lodeh juga dimeriahkan nori tempe, tahu iris panggang, serta chili oil.
Sementara itu, semur daging dihadirkan dalam level yang berbeda. Brisket (daging sapi dada bawah) dimasak dengan teknik braising (ditumis lebih dulu, lalu direbus dalam rempah hingga empuk dan penuh rasa), kemudian diiris dan disajikan di dalam kuah semur yang aromatik dan manis.
-800.jpg)
Pendampingnya, ada fried baby potato, wortel yang di-saute, pickled tomat cherry, bawang merah kecil (shallot) dan kailan yang ditumis. Saus krim yang hadir sebagai garnish, juga mempercantik tampilan dan cita rasa.
Jika ingin menu dengan nasi, maka gulai ayam bakar wajib dicoba. Irisan fillet dada ayam bakar yang smokey, hadir bersama kuah gulai yang gurih, kaya rempah, dan berlapis rasa santan creamy dengan sentuhan pedas-aromatik.
Selain itu, ada pula soto Banceuy, ayam balut kulit tahu, serta udang telur tobiko. Ah, sudah pasti ingin balik lagi!***