1. Home
  2. Sehat

Nikmat atau Risiko? Ini Kandungan Gizi Candied Salmon dan Cara Bijak Menikmatinya

Sehat

Kuncinya ada pada kontrol suhu dan higienitas. Proses yang asal-asalan bisa mengubah makanan lezat jadi sumber risiko.

Salmon
Salmon. (Pexels/Huy Phan)

SOEAT - Salmon candy atau candied salmon merupakan salah satu camilan premium yang belakangan jadi bahan obrolan hangat di dunia kuliner. Dari restoran fine dining hingga konten TikTok, salmon candy muncul sebagai tren baru yang memadukan eksotisme seafood dengan sentuhan manis yang tak biasa.

Untuk membuatnya, daging salmon diasap atau dipanggang dengan suhu rendah hingga mengilap dan sedikit karamelisasi. Tujuannya untuk memberi rasa manis-gurih khas dan menambah daya simpan, sekaligus menghasilkan aroma smoky yang “mengangkat” karakter salmon.

Tapi pertanyaannya, apakah salmon candy hanya sekadar nikmat di lidah, atau ada risiko kesehatan yang perlu kita waspadai? Kuncinya ada pada kontrol suhu dan higienitas. Proses yang asal-asalan bisa mengubah makanan lezat jadi sumber risiko.

Apa Itu Salmon Candy?

Salmon
Candied salmon. (https://www.juneauempire.com)

Salmon candy adalah olahan salmon yang dimarinasi dengan gula, madu, atau maple syrup, lalu diasap atau dipanggang hingga menghasilkan tekstur chewy dengan rasa manis gurih. Konsep ini berasal dari tradisi kuliner pesisir Amerika Utara, khususnya Alaska dan British Columbia, di mana ikan salmon diasap untuk diawetkan.

Kini, versi modernnya hadir sebagai camilan premium yang viral di media sosial. Salmon candy menawarkan eksotisme rasa yang unik. Perpaduan manis dan gurihnya jarang ditemukan pada olahan ikan lainnya.

Kandungan Gizi Salmon

Salmon
Potongan ikan salmon segar. (Pixabay/Sabrinakoeln)

Sebelum diolah menjadi candy, salmon sudah dikenal sebagai salah satu ikan paling bergizi. Sekitar 20 gram per 100 gram salmon segar, cukup untuk melahirkan rasa kenyang elegan tanpa rasa bersalah. Protein membantu perbaikan jaringan dan menjaga massa otot.

Salmon juga mengandung Omega-3 (EPA/DHA), lemak sehat yang mendukung kesehatan jantung dan otak, serta membantu modulasi peradangan. Organisasi seperti American Heart Association merekomendasikan konsumsi ikan berlemak dua kali seminggu sebagai bagian pola makan sehat.

Vitamin D dan mineral B12 yang terkandung dalam salmon, juga berguna untuk metabolisme serta fungsi saraf. Selenium dan potassium yang dikandung, mendukung imunitas dan keseimbangan elektrolit.

Dengan kata lain, “inti” salmonnya tetap unggul. Namun, saat masuk ranah “candy”, ada hal baru ikut terbawa: gula, proses pengasapan, dan potensi kalori ekstra. Meskipun kaya nutrisi khas ikan salmon, hidangan ini memiliki kandungan gula dan natrium yang lebih tinggi dibandingkan salmon segar.

Apa yang Berubah Saat Jadi Candy?

Salmon
Candied Salmon. (Amazon)

Ketika salmon diolah menjadi candy, ada beberapa perubahan nutrisi. Antara lain, penambahan gula atau madu. Selain memberi rasa manis gurih, tambahan itu juga menambah kalori dan kadar gula. Konsumsi berlebihan bisa meningkatkan risiko obesitas atau diabetes.

Proses pengasapan atau pemanggangan juga memberi aroma smoky yang khas. Namun, jika tidak dilakukan dengan benar, bisa menghasilkan senyawa PAH (Polycyclic Aromatic Hydrocarbons) yang berpotensi berisiko bagi kesehatan.

Di samping itu, kadar protein disebutkan masih tetap tinggi. Sehingga, salmon candy tetap bisa jadi camilan yang mengenyangkan.

Omega-3 juga relatif bertahan. Lemak sehat masih ada, meski sebagian bisa berkurang karena proses pemanggangan.

Nikmat vs Risiko: Analisis Kesehatan

Salmon
Candied Salmon. (Youtube/Tasyi Athasyia)

Dari penjelasan tersebut, diketahui bahwa salmon candy juga bisa tetap menjadi sumber protein premium. Hal ini membuatnya cocok untuk camilan sehat, dibanding snack lain yang tinggi karbohidrat.

Kandungan Omega-3 juga tetap ada, sehingga tetap mendukung kesehatan jantung dan otak. Pun dengan vitamin dan mineral yang masih terkandung, meski diolah. Dengan demikian, salmon candy masih tetap lebih bergizi dibanding permen atau snack manis biasa.

Akan tetapi, tetap ada risiko yang perlu diwaspadai. Kadar gula tinggi yang dikandung, bisa jadi masalah jika dikonsumsi berlebihan.

Proses pembuatan salmon candy yang membubuhkan kalori ekstra, juga membuatnya tidak cocok untuk pelaku diet rendah kalori. Sedangkan untuk proses pengasapan, jika tidak higienis, bisa menimbulkan senyawa berbahaya.

Dari segi harga, orang juga harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendapatkannya. Sehingga, tidak semua orang bisa menjadikannya camilan rutin.

Pakar keamanan pangan menekankan dua titik kritis: kualitas salmon (segar, preferably sashimi-grade jika ada tahap mentah/curing) dan prosedur pengolahan (kebersihan alat, kontrol suhu, waktu penyimpanan). Produk ikan yang mengalami curing lalu disimpan lama pada suhu kulkas tanpa pengawasan ketat dapat berisiko pertumbuhan mikroorganisme seperti Listeria. Prinsip “cold chain” dan kebersihan tangan-peralatan menjadi keharusan.

Menikmati Salmon Candy dengan Bijak

Salmon
Salmon. (Pixabay/Rita E)

Di berbagai negara, salmon candy sebenarnya sudah merupakan tradisi lama. Ia dijual sebagai oleh-oleh premium.

Sebut saja di Amerika Utara, hingga Eropa yang di berbagai restoran fine dining-nya mengangkat salmon candy sebagai appetizer eksklusif.

Untuk menikmatinya dengan bijak, kita bisa menerapkan langkah yang lebih moderat. Nikmati salmon candy sebagai camilan sesekali, bukan makanan utama.

Kita juga bisa memadukannya dengan makanan sehat, seperti salad atau nasi merah. Porsi juga perlu diperhatikan. Sekitar 2–3 potong cukup untuk camilan.

Yang tak kalah penting, yakni memilih produk berkualitas. Pastikan salmon segar dan proses pengasapan dilakukan dengan higienis.***