1. Home
  2. Kulineran

Truffle di Meja Nusantara: Antara Gaya Hidup Populer dan Cita Rasa

Meskipun, harus diakui, mungkin banyak yang sebenarnya belum pernah merasakan truffle asli secara langsung.

Truffle
Sushi dengan taburan jamur truffle. (Pexels)

SOEAT - Ada satu aroma yang belakangan ini sering membuat orang berhenti sejenak, mengangkat kepala, lalu bertanya, “Eh, ini wangi truffle ya?”. Tidak peduli apakah itu kentang goreng, ayam krispi, nasi goreng, pizza, sampai mi instan. Begitu aroma khas itu muncul, banyak orang langsung ngeh, truffle sedang unjuk gigi.

Ya, di tengah kelezatan kuliner Indonesia yang selalu kaya bumbu dan rempah, muncul satu fenomena menarik. Truffle semakin mudah ditemukan di meja makan Nusantara, bahkan dalam bentuk yang lebih kasual dan mass-friendly.

Fenomena ini bukan sekadar soal rasa. Ini soal gaya hidup, tren kuliner, dan bagaimana masyarakat urban Indonesia mulai memosisikan truffle sebagai simbol “selera modern”. Meskipun, harus diakui, mungkin banyak yang sebenarnya belum pernah merasakan truffle asli secara langsung.

Aroma yang Kini Menguasai Pop Culture Kuliner

Pizza
Pizza tartufata, salah satu pizza signature Beintema's, Kota Baru Parahyangan, yang menonjolkan aroma dan rasa khas truffle. (Soeat/Nday)

Dalam beberapa tahun terakhir, “truffle” berubah dari istilah kuliner fancy yang hanya kita dengar di restoran fine dining, menjadi kata yang akrab di dunia makanan sehari-hari. Truffle fries, truffle ramen, truffle burger, truffle mayo, truffle pizza, atau bahkan saus truffle dalam bentuk sachet, sudah menjadi bagian dari keseharian pecinta makanan kekinian.

Namun di balik popularitasnya, satu fakta menarik muncul. Sebagian besar menu truffle di Indonesia tidak menggunakan truffle asli, melainkan truffle oil —minyak yang diberi aroma sintetis atau essence truffle.

Aromanya kuat, catchy, dan mudah dikenali. Dan bagi banyak orang, itu sudah cukup untuk menciptakan pengalaman rasa yang berbeda.

Saat ini, truffle agaknya menjadi semacam “password" kuliner. Cukup dengan menambahkan aromanya, sebuah hidangan langsung terasa lebih premium, lebih modern, dan lebih Instagrammable.

Mengapa Truffle Begitu Cepat Populer?

Truffle
Dessert dengan tambahan truffle. (Pixabay/Nata737)

Ada setidaknya tiga alasan utama yang membuat truffle menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Pertama, aromanya yang menggoda dan berkesan.

Truffle memiliki aroma earthy yang unik, yakni perpaduan jamur, tanah lembap, dan sedikit sensasi musk yang misterius. Aroma ini “mewah” sekaligus eksotis, sehingga langsung menciptakan rasa penasaran. Ketika ditambahkan ke makanan sederhana seperti kentang goreng, rasanya langsung naik kelas.

Kedua, yakni sentuhan premium untuk menu kasual. Seperti diketahui, orang Indonesia suka mencoba hal baru, terlebih bila menyangkut makanan.

Truffle memberikan sensasi berbeda tanpa harus mengubah hidangan secara drastis. Menu yang familiar tetap dipertahankan, tetapi diberi twist modern. Inilah mengapa truffle mayo cepat sekali menjadi primadona. Ibaratnya, cukup satu sendok, dan nuansa fancy langsung terasa.

Efek media sosial dan budaya FOMO juga menjadi penentu. Konten makanan di Instagram, TikTok, dan YouTube sangat cepat membangun tren. Begitu ada satu restoran hits memakai truffle oil, restoran lain mengikuti.

Anak muda pun ingin mencoba karena rasanya kekinian, dan memberikan status gaya hidup tertentu. Makanan yang mengandung truffle menjadi penanda bahwa seseorang mengikuti arus kuliner yang sedang populer.

Truffle Bertemu Nusantara: Cocokkah?

Truffle
Truffle putih dan hitam. (Wikimedia Commons/Mortazavifar)

Jika dilihat dari karakter rasa, sebenarnya truffle —dengan aromanya yang earthy dan intens, bukan pasangan yang paling mudah untuk masakan Nusantara yang kaya rempah dan cenderung agresif. Namun di tangan para chef dan brand kuliner lokal yang kreatif, perpaduan ini justru melahirkan banyak menu yang surprisingly nyaman di lidah.

Beberapa perpaduan yang kini jadi favorit antara lain nasi goreng truffle. Aroma wangi truffle bertemu pedas, gurih, dan smokey-nya nasi goreng.

Kombinasi itu pada awalnya terdengar aneh, tetapi ternyata bikin nagih. Rasanya seperti nasi goreng premium yang tetap membumi.

Ada pula ayam crispy dengan truffle mayo. Truffle mayo memberikan sentuhan creamy dan wangi, sehingga cocok dengan ayam goreng berbumbu Nusantara seperti ayam geprek atau ayam bawang.

Tidak sedikit pula kedai mi, baik mi ayam maupun mi yamin, yang menambahkan truffle oil sebagai opsi rasa. Nuansanya tetap familiar, tapi ada aroma modern yang membuatnya berbeda dari mie rumahan biasa.

Snack lokal juga mengadaptasi dengan tambahan rasa truffle. Mulai dari kentang goreng, keripik singkong, hingga popcorn rasa truffle, semuanya mendapat sambutan hangat. Ini bukti bahwa truffle semakin masuk ke budaya makan sehari-hari.

Truffle Oil vs Truffle Asli: Fakta yang Perlu Diketahui

Truffle
Truffle. (Pixabay/Mrdidg)

Truffle bukan sekadar bahan makanan. Di Indonesia, ia telah berubah menjadi simbol selera dan gaya hidup urban. Ketika seseorang memesan menu truffle, konon ada kesan bahwa ia punya preferensi makanan yang up-to-date dan dekat dengan tren global.

Bahkan ketika aromanya berasal dari essence, bukan jamur asli, label truffle tetap membuat produk terasa lebih eksklusif. Ini menciptakan efek psikologis yang kuat di konsumen.

Truffle asli sebenarnya merupakan jamur langka yang tumbuh di bawah tanah. Ia hanya bisa dipanen dengan bantuan anjing khusus.

Harganya sangat mahal, bisa jutaan rupiah per 100 gram. Rasanya subtle, kompleks, dan tidak sekuat truffle oil. Truffle biasanya digunakan pada hidangan fine dining.

Pizza
Mushroom pizza and truffle, salah satu jenis pizza vegetarian yang paling disukai. (Pixabay/Joshuemd)

Sedangkan truffle oil, merupakan sejenis minyak (olive oil atau canola) yang diberi aroma truffle. Sebagian besar rasanya menggunakan aroma sintetis, sehingga aromanya jauh lebih kuat dan tajam.

Berbeda dengan truffle asli, harganya sangat terjangkau. Inilah yang umum digunakan di restoran dan snack truffle di Indonesia

Perbedaan besar inilah yang membuat truffle oil lebih cocok untuk menu Indonesia yang kaya bumbu, karena aromanya cukup kuat untuk bersaing dengan rempah. Akan tetapi, bukan berarti truffle benar-benar cocok dengan lidah Indonesia.

Truffle cocok jika dipakai secukupnya sebagai penambah aroma, namun tidak cocok bila terlalu dominan. Banyak orang mengakui bahwa aroma truffle bisa terasa “menyengat” atau bahkan “menusuk” bila berlebihan.

Tetapi ketika dipadukan dengan rasa gurih, pedas, atau creamy, truffle justru memperkuat karakter makanan. Misalnya, sambal mayo truffle, pangsit goreng saus truffle, atau pasta creamy truffle dengan taburan cabai rawit. Kombinasi ini terasa modern tanpa kehilangan identitas Nusantara yang kuat.***