- Home
- Kulineran
Hidden Gem Pasar Palasari Bandung, Maksi Nikmat di Warnas Mang Aja Thea
Untuk menyambanginya, kita harus melewati belasan kios buku di dalam area pasar, sampai kemudian menemukan sebuah rumah tua yang didominasi cat biru.

SOEAT - Terletak di dalam Pasar Palasari, Warung Nasi Mang Aja Thea merupakan hidden gem yang tak boleh dilewatkan. Warung ini cukup legendaris, karena sudah ada di tempat yang sama sejak 1963.
Untuk menyambanginya, kita harus melewati belasan kios buku di dalam area pasar, sampai kemudian menemukan sebuah rumah tua yang didominasi cat biru. Sudah tentu, barang-barang yang ada di dalamnya pun bernuansa lawas.
Bahkan, alunan lagu yang diputar untuk menemani para pengunjung bersantap, merupakan setlist golden memory yang mayoritas hits di dekade 70 dan 90an.
Dari balik etalase kaca, sebuah tampah bambu berisi ayam pejantan ungkep langsung menarik perhatian. Ayam ini yang pada akhirnya akan banyak dipilih oleh pengunjung, untuk menemani sesi bersantap.
Di sekitarnya, ada aneka lauk pauk yang tak kalah menggiurkan. Mulai dari sate jantung, sate ati ampela, bakwan jagung, perkedel kentang, tahu dan tempe, serta aneka oseng sayuran semisal tumis paria dan tempe. Semua lauk pauk kembali digoreng ketika hendak disantap.
Tak lupa, aneka lalap dan sambal nikmat yang bisa dinikmati sepuasnya. Yang paling menyenangkan, menurut kami, adalah kehadiran lalapan pokpohan yang memang agak jarang ditemukan di warung nasi Sunda. Jangan lewatkan pula soun kecap cabe ijo, sebagai pelengkap.
Generasi kedua penerus Warnas Mang Aja Thea, Ceu Imas (53), menyebutkan bahwa setiap hari, Warnas Mang Aja Thea buka mulai dari pukul 10.00 hingga 15.00 WIB. Warung nasi ini memang ditujukan sebagai destinasi makan siang.
Selain nasi putih, juga disajikan nasi merah. Sambil menunggu pesanan datang, pengunjung juga bisa menyantap seporsi tutut yang ditawarkan di bagian depan.
Tak heran, sejak buka hingga menjelang tutup, warung nasi ini nyaris tak pernah sepi dari pengunjung yang datang dan pergi. Berdasarkan pengalaman SOEAT yang beberapa kali makan di tempat ini pun, hampir tak pernah ada kursi kosong yang teronggok lama tanpa diduduki pengunjung.
“Bangku ini pun juga masih bangku yang sama sejak saya kecil dan warung ini pertama kali berdiri,” ujar Ceu Imas, ketika ditemui beberapa waktu lalu.
Nama Mang Aja sendiri merupakan nama kakak dari Ceu Imas, yang merupakan anak kedua dari delapan bersaudara. Menu-menu yang disajikan sejak dulu pun tak pernah berubah hingga kini.
Disebutkan Ceu Imas, setiap hari ada sekitar 25 ekor ayam pejantan yang dibumbui. Jumlahnya setara dengan sekitar 150 porsi ayam goreng. Selain itu, ikan terbang nila, pindang ikan mas, dan karedok leunca juga disebutkan Ceu Imas menjadi menu yang ramai dipesan.
“Rata-rata sebelum jam dua sudah habis, jadi ya kami langsung beres-beres tutup sebelum jam tiga sore,” ujarnya.
Seporsi ayam pejantan goreng dihargai Rp 21 ribu. Karena digoreng tidak terlalu lama, cita rasa daging ayam yang empuk masih begitu terasa. Bumbu ungkepnya pas, tidak terlampau asin seperti ayam goreng kebanyakan.
Nah, setelah kenyang menyantap makanan “berat”, warnas ini juga menawarkan aneka kolak sebagai sajian penutup yang enak. Tak sedikit pula orang yang membelinya untuk dibungkus dan disantap di rumah.***