1. Home
  2. Kulineran

Kedai B3Doloer Bandung: Kuliner Autentik Palembang Tak Hanya Pempek

Makanan khas Palembang berbahan dasar ikan dan sagu ini telah melintasi Sungai Musi, menyeberangi pulau, dan menetap di hati para pencinta kuliner Bandung.

Pempek
Beberapa jenis pempek yang disajikan di Kedai Pempek B'3Doloer, Jl. Taman Cibeunying Utara, Kota Bandung. (Soeat/Nday)

SOEAT - Bandung sebagai kota miniatur kuliner tradisional berbagai daerah di Indonesia, membawa banyak sisi positifnya. Tak perlu jauh-jauh keluar dari kota yang merupakan ibu kota Jawa Barat ini, hampir semua kuliner tradisional dalam versi autentiknya ada di sini.

Salah satu kuliner khas daerah yang banyak ditemukan di Kota Bandung yakni pempek. Makanan khas Palembang berbahan dasar ikan dan sagu ini telah melintasi Sungai Musi, menyeberangi pulau, dan menetap di hati para pencinta kuliner Bandung.

Pempek, dengan karakter rasa yang kuat dan kuah cuko yang tajam, awalnya mungkin terasa asing bagi lidah Sunda yang cenderung ringan dan segar. Namun, seiring waktu, ada pempek di Bandung mengalami penyesuaian, ada pula yang mempertahankan cita rasanya untuk kemudian "menggiring" lidah orang Bandung yang melakukan penyesuaian.

Pempek B'3Doloer yang berlokasi di Jl. Taman Cibeunying Utara, Kota Bandung, bisa dikatakan meraup keduanya. Mereka berupaya untuk mempertahankan cita rasa autentiknya, sekaligus juga melakukan sedikit penyesuaian agar bisa lebih diterima lidah masyarakat lokal dengan lebih baik.

Kedai Eye Catchy di Cibeunying

Pempek
Beberapa jenis kerupuk andalan di Kedai B3Doloer, Jl. Taman Cibeunying Utara, Kota Bandung. (Soeat/Nday)

Di antara deretan kedai-kedai kuliner di kawasan jajan Taman Cibeunying Utara, tersembul sebuah kedai mungil yang eye catchy bernuansa merah dan putih bertuliskan "B'3Doloer by Dapur Oma". Ini merupakan gerai kuliner yang menyajikan makanan khas palembang seperti pempek, tekwan, dan mi celor dengan bahan baku premium.

Salah seorang pemiliknya, Okky Zahrifa (32), mengatakan bahwa makna dari nama B'3Doloer adalah tiga saudara asal Palembang yang ingin mengangkat dan memperkenalkan makanan daerah khas kota kelahirannya. Hal itu agar kuliner Palembang bisa semakin banyak dikenal di tanah air, tidak hanya di Pulau Sumatera.

"Kami mulai berjualan pempek sejak 2019. Awalnya hanya open PO, lalu tahun 2023 mulai berjualan keluar dan ikut Trademark, sehingga muncul permintaan konsumen untuk makan di tempat. Karena waktu kita hanya produksi di rumah, sehingga tidak bisa memenuhi permintaan itu. Nah baru pada 2025 ini, kita membuka kedai dan mulai bisa mengajak konsumen untuk dine in," kata Okky, ketika ditemui di kedai B3Doloer Jl. Taman Cibeunying Utara, Kota Bandung, beberapa waktu lalu.

Dari Pempek Crispy Sampai Model Mie dan Kapal Selam Kuah

Pempek
Model mie, salah satu menu berkuah andalan di Kedai B'3doloer, Jl. Taman Cibeunying Utara, Kota Bandung. (Soeat/Nday)

Berbagai jenis pempek yang "nendang" rasa ikan tenggirinya, tentu menjadi menu andalan B3Doloer. Ada pempek telor, lenjer, adaan, pempek kulit, hingga pempek crispy.

Uniknya, meski cita rasa ikan tenggiri begitu terasa saat pempek digigit, namun tak ada aroma amis yang mengikuti. "Kami menggunakan ikan tenggiri dengan kualitas premium, 100 persen," ujar Okky.

Racikan rempah yang digunakan juga begitu nge-blend dengan adonan pempek, sehingga menguarkan aroma yang wangi. Teksturnya pun kenyal namun empuk, sehingga pempek ala B3Doloer tak alot saat digigit.

Akan tetapi, kuliner autentik Palembang tak hanya berbicara soal pempek. Di kedai ini, menu jagoan yang tak boleh dilewatkan juga ada tekwan, model, model mie, lenggang, serta kapal selam kuah. Beberapa menu yang disebut belakangan agaknya jarang ditemukan di kedai pempek lain.

Model mie ala Palembang adalah salah satu varian kuliner khas Sumatera Selatan yang menggabungkan pempek model dengan mie atau bihun dalam kuah kaldu bening yang gurih. Hidangan ini merupakan bentuk adaptasi dan inovasi dari makanan tradisional Palembang yang biasanya disajikan tanpa mie.

Sementara model, adalah jenis pempek yang diisi dengan tahu, lalu disajikan dalam kuah kaldu udang atau ikan yang bening dan ringan. Berbeda dengan pempek biasa yang disajikan dengan cuko, model justru lebih mirip dengan tekwan, namun dengan isian tahu dan tekstur pempek yang lebih padat. Rasanya ringan, gurih, dan sangat cocok disantap hangat-hangat, terutama di pagi atau sore hari.

"Hidangan ini mungkin memang belum terlalu populer di Bandung. Kita menyantapnya bersama mi khas Palembang, yang bumbunya diracik lagi, dan ditambahkan bubuk cabai agar rasanya lebih pedas dan gurih," kata Okky.

Spesial di Menu Akhir Pekan

Tekwan
Tekwan alias sup berisi bola-bola ikan yang terbuat dari daging ikan dan sagu atau tapioka, disajikan dalam kuah kaldu udang gurih dengan pelengkap seperti bengkuang, jamur kuping, sohun, daun bawang, dan seledri. (Soeat/Nday)

Selain itu, jangan lewatkan menyambangi kedai ini di akhir pekan. Karena, ada beberapa menu yang hanya bisa didapatkan ketika akhir pekan tiba. Sebut saja laksan, serta mie celor.

Sekilas mirip dengan pempek lenjer, laksan menyajikan pengalaman kuliner yang lebih lembut, berkuah, dan penuh rempah. Laksan adalah olahan ikan giling (biasanya tenggiri atau belida) yang dicampur dengan tepung sagu, dibentuk oval seperti pempek lenjer, lalu direbus dan dipotong-potong.

Yang membedakannya adalah kuah santan merah yang gurih dan pedas, dibuat dari campuran santan, ebi, bawang merah, cabai, dan rempah khas Palembang. Kuahnya kental, beraroma kuat, dan memberikan sensasi hangat di setiap suapan. Rasanya merupakan perpaduan antara gurih, pedas, dan sedikit manis dari santan dan ebi.

Laksan biasanya disajikan dengan sambal merah dan taburan bawang goreng. Terkadang, laksan juga ditambahkan irisan kucai atau daun bawang untuk kesegaran.

Banyak orang menyebut laksan sebagai “pempek versi berkuah,” tapi sebenarnya ia punya karakter sendiri. Kuahnya lebih lembut dan creamy, laksan juga tidak menggunakan cuko, dan cocok disantap hangat -terutama saat hujan atau berbuka puasa.

Sementara itu, mie celor merupakan perpaduan mie kuning tebal, tauge segar, telur rebus, dan kuah kental berbasis kaldu udang dan santan yang gurih dan beraroma khas. Nama "celor" berasal dari teknik memasak mie dan tauge dengan cara diseduh air panas —dalam bahasa Palembang disebut “dicelor”.

Kuah mie celor kental seperti kuah laksa, tapi dengan karakter yang lebih "laut" dan tidak terlalu rempah. Mie celor cocok disantap untuk sarapan, makan siang, atau bahkan comfort food saat hujan.***