1. Home
  2. Nusarasa

4 Fakta Sejarah Menarik Tentang Bakso, Pernah Jadi Simbol Perlawanan

Nusarasa

Sejarah bakso tidak hanya terbatas pada Indonesia, tetapi juga memiliki akar yang dalam di berbagai belahan dunia.

Ilustrasi bakso. (Pixabay)
Ilustrasi bakso. (Pixabay)

SOEAT - Bakso adalah salah satu makanan paling populer di Indonesia, tetapi barangkali sedikit yang tahu bahwa hidangan ini memiliki sejarah panjang yang menarik. Dari asal-usulnya hingga evolusi bentuk dan bahan, bakso telah mengalami banyak perubahan sebelum menjadi makanan yang kita kenal sekarang.

Ia adalah bagian dari sejarah kuliner yang telah melewati berbagai zaman dan budaya. Dari gerobak sederhana di pinggir jalan hingga restoran mewah, bakso selalu memiliki tempat istimewa di hati masyarakat Indonesia.

Akan tetapi, di balik kelezatannya yang menggoda, bakso menyimpan kisah panjang yang menarik dan penuh kejutan. Sejarah bakso tidak hanya terbatas pada Indonesia, tetapi juga memiliki akar yang dalam di berbagai belahan dunia.

Dari Tiongkok hingga Eropa, bola daging ini telah mengalami evolusi yang luar biasa, beradaptasi dengan selera dan tradisi masyarakat setempat. Bahkan, beberapa fakta sejarah tentang bakso mungkin akan mengejutkan, mulai dari asal-usulnya yang berakar pada Dinasti Ming hingga perannya dalam akulturasi budaya di Nusantara.

Nah, jika selama ini kita mengira bakso hanyalah sekadar makanan biasa, bersiaplah untuk melihatnya dari perspektif yang berbeda.

1. Berasal dari Dinasti Ming, Tiongkok

Meskipun bakso kini identik dengan kuliner Indonesia, sejarahnya sebenarnya berakar dari Tiongkok. Bakso pertama kali ditemukan pada abad ke-17, saat Dinasti Ming berkuasa.

Konon, seorang pria bernama Meng Bo menciptakan bakso karena ibunya yang sudah tua kesulitan mengunyah daging. Ia kemudian menggiling daging dan membentuknya menjadi bola kecil agar lebih mudah dimakan.

2. Nama "bakso" berasal dari Bahasa Hokkien

Istilah "bakso" ternyata bukan berasal dari bahasa Indonesia, melainkan dari bahasa Hokkien. Kata "bak" dalam bahasa Hokkien berarti "daging babi," sementara "so" berarti "bola".

Awalnya, bakso dibuat dari daging babi, tetapi ketika masuk ke Indonesia, bahan utamanya beralih ke daging sapi agar lebih sesuai dengan mayoritas penduduk Muslim.

3. Bakso populer di berbagai negara tapi sempat dilarang

Bakso tidak hanya populer di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara dengan nama dan bentuk yang berbeda. Di Spanyol, bakso dikenal sebagai "albondigas", sementara di Jerman disebut "bitterballen." Di Italia, bakso dikenal sebagai "polpette" dan sering disajikan dengan pasta.

Meskipun bakso sangat populer di Indonesia, ternyata ada beberapa negara yang sempat melarang konsumsi bakso karena kandungan bahan tertentu. Di beberapa wilayah Eropa, penggunaan boraks dalam bakso sempat menjadi kontroversi, sehingga beberapa negara melarang impor bakso dari Indonesia hingga regulasi keamanan pangan diperketat.

4. Bakso pernah menjadi simbol perlawanan

Bakso sebagai simbol perlawanan memiliki cerita yang menarik, terutama dalam konteks sejarah Indonesia. Pada masa penjajahan, bakso tidak hanya menjadi makanan yang mengenyangkan, tetapi juga alat komunikasi dan penyamaran bagi para pejuang.

Gerobak bakso yang dapat berpindah-pindah menjadi sarana yang efektif untuk menyampaikan pesan rahasia atau menyelundupkan barang-barang penting.

Selain itu, filosofi bakso juga mencerminkan semangat persatuan dan pantang menyerah. Bentuknya yang bulat sering diartikan sebagai simbol kebersamaan, sementara proses pembuatannya yang membutuhkan ketekunan menjadi metafora perjuangan hidup.

Cerita ini menunjukkan bagaimana makanan sederhana seperti bakso dapat memiliki makna yang mendalam dan menjadi bagian dari sejarah perjuangan bangsa.***